Malcolm Baldrige itu sebenarnya nama Menteri Perdagangan Amerika Serikat pada tahun 80-an, jamannya Ronald Regan. Mengapa nama Malcolm Baldrige sampai menjadi nama sebuah konsep atau model pengelolaan perusahaan, karena Malcolm Baldrige telah berhasil mengembangkan sebuah model pengelolaan perusahaan berkinerja unggul (performance excellence).
Sebagai Menteri Perdagangan AS, Malcolm Baldrige merasakan bahwa banyak produk perusahaan Jepang telah mengancam produk-produk perusahaan AS. Padahal 40 tahun sebelumnya, Jepang pernah di bom oleh Sekutu (AS). Proses pemikiran dan pembelajaran Malcolm Baldrige sampai pada suatu kesimpulan bahwa AS perlu mengembangkan sebuah model pengelolaan perusahaan yang mampu menjadikan perusahaan-perusahaan di AS berkinerja unggul.
Sehingga secara lengkap model pengelolaan perusahaan berkinerja unggul yang dikembangkan oleh Malcolm Baldrige disebut Malcolm Baldrige Criteria for Performance Excellence (MBCfPE). Berdasarkan proses dan tujuan penciptaannya, pengertian MBCfPE secara singkat adalah merupakan konsep atau model pengelolaan perusahaan agar perusahaan tersebut mampu menjadi perusahaan yang berkinerja unggul.
Nilai Dasar MBCfPE
Model MBCfPE dikembangkan berdasarkan 11 (sebelas) nilai dasar (core value) yang menjadi dasar pengelolaan perusahaan berkinerja unggul. Kesebelas nilai dasar tersebut adalah :
1. Visionary leadership (kepemimpinan yang mempunyai visi). Untuk menjadi perusahaan unggul, suatu perusahaan harus dipimpin oleh manajemen yang mempunyai kemampuan untuk membaca masa depan. Pandangan manajemen terhadap masa depan tersebut harus dirumuskan dalam bentuk pernyataan (visi). Visi perusahaan tersebut harus dirumuskan dalam bentuk kalimat yang mudah dipahami dan dapat diterjemahkan dalam strategi yang jelas.
2. Customer Driven Excellence (pelanggan sebagai pendorong kinerja unggul). Produk/jasa yang dihasilkan oleh suatu perusahaan ditujukan untuk konsumsi pelanggan. Suatu perusahaan akan mempunyai kinerja unggul apabila produk/jasa yang dihasilkan dibeli oleh pelanggan. Pelanggan akan membeli suatu produk/jasa jika produk/jasa tersebut mampu memenuhi keinginannya. Sehubungan dengan hal tersebut untuk menjadi perusahaan unggul, suatu perusahaan harus mampu memenuhi keinginan pelanggan. Sehingga dikatakan bahwa pelanggan sebagai pendorong kinerja unggul.
3. Organizational and Personal Learning (proses pembelajaran personal dan organisasi). Suatu perusahaan akan mampu berkinerja unggul apabila perusahaan tersebut diisi oleh orang-orang yang mempunyai kompetensi. Kompetensi organisasi dan personal yang ada di dalamnya akan meningkat apabila perusahaan berikut para personalnya mampu melaksanakan proses pembelajaran secara berkelanjutan. Ibarat seperti pisau, akan semakin tajam kalau pisau tersebut diasah.
4. Valuing Employees and Partners (menghargai karyawan dan mitra kerja). Suatu perusashaan akan mampu berkinerja unggul apabila didukung oleh seluruh pegawai dan mitra usahanya. Untuk mendapatkan dukungan dari segenap pegawai dan mitra usaha tersebut, perusahaan harus mampu menghargai dan memenuhi kebutuhan pegawai dan mitra usaha.
5. Agility (kegesitan). Pada saat ini, perubahan dan perkembangan lingkunan bisnis begitu cepat. Hanya perusahaan yang mampu menyesuaikan dengan perubahan dan perkembangan di luar perusahan yang dapat mempertahankan keberadaannya. Bahkan perusahaan yang mampu mengantisipasi akan adanya suatu perubahan akan mampu meningkatkan kinerjanya. Sehubungan dengan hal tersebut, untuk menjadi perusahaan yang berkinerja unggul, suatu perusahaan harus mempunyai kegesitan dalam mengantisipasi akan adanya perubahan dan perkembangan. Ingat sebuah pameo bahwa ”yang cepat akan memakan yang lambat.”
6. Focus on the Future (fokus pada masa depan). Mengelola kinerja suatu perusahaan lebih banyak berkaitan dengan pengelolaan masa yang akan datang. Sehubungan dengan hal tersebut, untuk menjadi perusahaan yang berkinerja unggul, suatu perusahaan harus mampu memprediksi apa yang akan terjadi di masa yang akan datang, lakukan antisipasi dan penyesuaian terhadapa masa yang akan datang tersebut.
7. Managing for Innovation (mengelola untuk menumbuhkan inovasi). Dalam kondisi persaingan yang sangat tajam seperti saat ini, hanya perusahaan yang mempunyai banyak inovasi dan kreatifitas yang akan memenangkan persaingan. Oleh sebab itu dalam rangka memenagkan persaingan dan mencapai kinerja unggul, dalam suatu perusahaan harus diciptakan suatu kondisi dimana inovasi dan kreatifitas dapat berkembang.
8. Managing by Fact (pengelolaan perusahaan berdasarkan fakta). Perusahaan kelas dunia selalu mendasarkan pada fakta dan data dalam setiap pengambilan keputusan. Oleh sebab itu ketersediaan data dan informasi merupakan prasyarat utama bagi perusahaan yang menghendaki kinerja usahanya unggul. Data dan fakta yang berkaitan dengan perusahaan harus dikelola sedemikian rupa sehingga ketersediaan data dan fakta yang up to date selalu terjamin.
9. Social Responsibility and Citizenship (tanggung jawab sosial dan sebagai warga negara). Lingkungan sosial sangat berpengaruh pada keberhasilan suatu perusahaan. Untuk menjadi perusahaan yang berkinerja unggul, suatu perusahaan harus memperlihatkan perhatiannya di bidang social lingkungan sekitar. Manajemen perusahaan harus memperlihatkan perilakunya sebagai warga negara yang baik.
10. Focus on Results and Creating Value (fokus pada hasil dan penciptaan nilai). Suatu perusahaan dikatakan berkinerja unggul apabila hasil akhir perusahaan tersebut lebih baik dibandingkan dengan hasil akhir yang dicapai oleh para pesaingnya. Oleh sebab itu, untuk menjadi perusahaan yang berkinerja unggul, suatu perusahaan harus lebih banyak memfokuskan perhatiannya terhadap hasil akhir dan proses penciptaan nilai. Setiap proses harus dilihat seperti apa hasil akhirnya dan sejauh mana telah terjadi penciptaan nilai. Hasil akhir menjadi tujuan dan bukti dari sebuah proses pengelolaan perusahaan yang telah dilakukan.
11. System Perspectives (Perspektif system). Dalam hal pengelolaan perusahaan, terdapat beberapa aspek yang harus menjadi perhatian dari manajemen. Beberapa aspek tersebut harus dipahami sebagai suatu system yang saling terkait. Untuk menjadi perusahaan yang berkinerja unggul, pengelolaan perusahaan tidak bisa hanya dilakukan untuk satu atau dua aspek tertentu.
Criteria (Category) MBCfPE
Dalam model MBCfPE, kesebelas nilai dasar tersebut di atas membentuk 7 (tujuh) kriteria atau kategori pengelolaan perusahaan berkinerja unggul. Kriteria atau kategori merupakan aspek yang harus menjadi titik perhatian manajemen dalam pengelolaan perusahaan dalam rangka mencapai kinerja unggul. Ketujuh kriteria atau kategori tersebut adalah sebagai berikut :
1. Leadership (kepemimpinan) :
Dalam kategori kepemimpinan terdapat dua aspek perhatian manajemen yaitu, pertama, kepemimpinan organisasi – bagaimana para pemimpin senior memimpin perusahaan, dan kedua, tata kelola dan tanggung jawab sosial – bagaimana para pemimpin senior mengelola dan memperhatikan tanggung jawab sosial.
Indikasi bahwa manajemen telah menjalankan aspek kepemimpinan menuju kinerja unggul menurut konsep MBCfPE antara lain :
a. Adanya komitmen pribadi terhadap pelanggan
b. Instruksi/perintah manajemen dikomunikasikan secara efektif
c. Penggunaan hasil review diarahkan untuk melakukan perbaikan
d. Terdapat komunikasi tentang ketaatan atau perlu dilaksanakannya nilai-nilai organisasi
e. Fokus pada pembelajaran di semua level organisasi
f. Berperilaku sebagai warga negara yang baik
2. Strategic Planning (perencanaan strategis) :
Dalam kategori perencanaan strategis terdapat dua aspek perhatian manajemen yaitu, pertama, pengembangan strategi – bagaimana para pemimpin senior membangun strategi, dan kedua, penerapan strategi – bagaimana perusahaan menerapkan strategi.
Indikasi bahwa manajemen telah menjalankan aspek perencanaan strategis menuju kinerja unggul menurut konsep MBCfPE antara lain :
a. Adanya keseimbangan antara rencana jangka pendek dan jangka panjang
b. Penetapan target yang agresif
c. Adanya pendekatan yang sistematis yang ditujukan terhadap seluruh sumber resiko
d. Penetapan tujuan dan target penting didasarkan pada permintaan pelanggan dan pergerakan pasar
e. Dalam penyusunan perencanaan telah memperhatikan pemasok, mitra kerja, dan pelanggan utama
3. Customers and market focus (fokus pada pasar dan pelanggan) :
Dalam kategori fokus pada pasar dan pelanggan terdapat dua aspek perhatian manajemen yaitu, pertama, pengetahuan terhadap pelanggan dan pasar – bagaimana perusahaan menggunakan informasi pelanggan dan pasar, dan kedua, kepuasan dan hubungan pelanggan – bagaimana perusahaan anda membangun hubungan dan menumbuhkan kepuasan dan loyalitas pelanggan?
Indikasi bahwa manajemen telah menjalankan aspek fokus pada pasar dan pelanggan menuju kinerja unggul menurut konsep MBCfPE antara lain :
a. Mempunyai perkiraan dan pengetahuan tentang pasar yang mendalam/lengkap
b. Mempertimbangkan kebutuhan pelanggan saat ini dan pelanggan potensial
c. Secara aktif selalu berhubungan dengan pelanggan
d. Memiliki beberapa media komunikasi untuk mengidentifikasi keinginan pelanggan
e. Fokus pada loyalitas dan perluasan hubungan pelanggan
f. Penyelesaian komplain pelanggan secara cepat dan efektif
g. Adanya kepuasan pelanggan yang tinggi dan transaksi yang berulang
4. Measurement, Analysis, and Knowledge Managament (pengukuran, analisis dan pengelolaan pengetahuan) :
Dalam kategori pengukuran, analisis, dan pengelolaan pengetahuan terdapat dua aspek perhatian manajemen yaitu, pertama, pengukuran, analisis dan pengkajian kinerja – bagaimana anda mengukur, menganalisa dan mengevaluasi kinerja organisasi, dan kedua, pengelolaan pengetahuan dan informasi – bagaimana anda mengelola pengetahuan dan informasi organisasi?
Indikasi bahwa manajemen telah menjalankan aspek pengukuran, analisis, dan pengelolaan pengetahuan menuju kinerja unggul menurut konsep MBCfPE antara lain :
a. Pengambilan keputusan didasarkan pada data
b. Adanya pengumpulan data yang dipergunakan dalam melakukan tindakan
c. Mempergunakan berbagai macam alat ukur yang saling terkait
d. Adanya penerapan data dan informasi yang dapat diakses secara luas
e. Adanya pembandingan hasil dan proses dengan perusahaan terbaik di kelasnya
f. Memiliki sistem yang dapat dipercaya, aman dan mudah dipakai
g. Pengetahuan organisasi mencakup dan disharing secara internal dan eksternal
5. Human Resources Focus (fokus pada sumber daya manusia) :
Dalam kategori fokus pada sumber daya manusia tiga aspek perhatian manajemen yaitu, pertama, sistem kerja – bagaimana manajemen memampukan karyawan untuk menyelesaikan tugas dan kewajibannya, kedua, motivasi dan pembelajaran karyawan – bagaimana manajemen berpartisipasi dalam memotivasi dan pembelajaran karyawan, dan ketiga, kenyamanan dan kepuasan karyawan – bagaimana anda berkontribusi untuk kenyamanan dan menumbuhkan kepuasan karyawan.
Indikasi bahwa manajemen telah menjalankan fungsi fokus pada sumber daya manusia menuju kinerja unggul menurut konsep MBCfPE antara lain :
a. Pegawai diberlakukan sebagai pelanggan
b. Adanya komitmen yang kuat terhadap moral, rasa memiliki, motivasi dan kepuasan pegawai
c. Adanya komitmen terhadap pelatihan, pendidikan dan pengembangan pegawai
d. Adanya keterkaitan pembelajaran organisasi dan individu pegawai
e. Adanya pemberdayaan pegawai
6. Process Management (pengelolaan proses) :
Dalam kategori pengelolaan proses terdapat dua aspek perhatian manajemen yaitu, pertama, proses penciptaan nilai – bagaimana perusahaan mengidentifikasi dan mengelola proses utama, dan kedua, proses pendukung dan perencanaan operasional – bagaimana organisasi anda mengidentifikasi proses pendukung dan mengaitkannya dan perencanaan operasional
Indikasi bahwa manajemen telah menjalankan aspek pengelolaan proses menuju kinerja unggul menurut antara lain :
a. Adanya pendefinisian secara jelas tentang produk/jasa, bisnis dan proses pendukungnya
b. Fokus pada proses yang dapat menciptakan nilai bagi pihak yang berkepentingan terhadap perusahaan
c. Adanya penetapan kualitas untuk produk, jasa dan proses
d. Fakus pada perbaikan yang berkelanjutan, penurunan waktu perputaran, dan peningkatan produktivitas
e. Adanya integrasi yang kuat dari usaha pencegahan, koreksi dan perbaikan terhadap operasional sehari-hari
f. Bermitra dengan pemasok dan pelanggan
7. Results (hasil organisasi) :
Dalam kategori hasil organisasi terdapat enam aspek perhatian manajemen yaitu, pertama, hasil produk dan jasa – bagaimana kinerja produk dan jasa perusahaan, kedua, hasil fokus pada pelanggan – bagaimana kinerja dari fokus pada pelanggan, ketiga, hasil keuangan dan pasar – bagaimana kinerja keuangan dan pemasaran perusahaan, keempat,
hasil sumber daya manusia – bagaimana kinerja sumber daya manusia perusahaan, kelima, hasil keefektifan organisasi – bagaimana efektifitas kinerja perusahaan, keenam, hasil kepemimpinan dan tanggung jawab sosial – bagaimana hasil kepemimpinan dan tanggung jawab sosial perusahaan.
Indikasi bahwa perusahaan telah menunjukkan adanya kinerja unggul menurut konsep MBCfPE antara lain :
a. Hasil perusahaan terkait dengan keinginan pelanggan
b. Hasil perusahaan terkait dengan proses utama
c. Hasil perusahaan terkait dengan kinerja produk dan jasa
d. Hasil perusahaan terkait dengan strategi dan rencana langkah kerja
e. Hasil perusahaan terkait dengan keinginan pegawai
f. Hasil perusahaan terkait dengan ukuran kinerja keuangan dan pemasaran
g. Hasil perusahaan terkait dengan tata kelola organisasi dan tanggung jawab sosial
h. Hasil perusahaan menunjukkan adanya tingkatan dan trend
i. Hasil perusahaan menunjukkan kinerja dari berbagai tingkatan organisasi
j. Hasil perusahaan mempunyai pembanding/benchmarks
Keterkaitan antara nilai dasar, kriteria atau kategori, dan kinerja unggul dapat digambarkan sebagai berikut :
Mengapa MBCfPE?
Model MBCfPE memiliki keunggulan dibandingkan dengan sistem manajemen yang lain. Keunggulan model MBCfPE tersebut menjadi alasan BNI mengapa model MBCfPE diterapkan.
1. Used worldwide, model MBCfPE telah banyak diterapkan di perusahaan-perusahaan kelas dunia di lima benua.
2. Adaptable, kriteria penilaian kinerja yang dipergunakan dalam MBCfPE selalu di up date sesuai dengan perkembangan zaman
3. Focus on common requirement, penilaian yang dilakukan oleh model MBCfPE fokus pada hal-hal umum tentang persyaratan pengelolaan perusahaan, sehingga dapat digunakan untuk semua perusahaan dengan berbagai macam bidang usaha
4. Merupakan proven management model, telah terbukti manfaatnya, dimana perusahaan-perusahaan yang telah menerapkan model MBCfPE mampu menjadi perusahaan kelas dunia dengan kinerja unggul.
5. MBCfPE merupakan konsep yang terpadu, meliputi 7 (tujuh) kriteria utama dalam mengelola perusahaan yang saling terkait. Model MBCfPE mengevaluasi pengelolaan suatu perusahaan apakah perusahaan tersebut telah dikelola berdasarkan prinsip-prinsip pengelolaan perusahaan unggul.
6. Model MBCfPE merupakan system manajemen yang bersifat komprehensif, mencakup seluruh komponen utama dalam pengelolaan perusahaan yang efektif dan berkinerja unggul.
7. Referensi tentang model MBCfPE mudah didapat melalui media internet.
8. Model MBCfPE memberikan umpan balik berupa peluang untuk perbaikan dan peningkatan kinerja. Dalam feedback report (hasil assessment yang dilakukan examiner/assessor) disampaikan beberapa kelamahan (opportunity for improvement) yang harus diperbaiki dalam rangka mencapai kinerja unggul.
9. Melalui application document dan feedback report, model MBCfPE dapat memberikan gambaran perusahaan secara keseluruhan, baik untuk kepentingan sendiri maupun pihak luar.
10. Model MBCfPE dapat berfungsi sebagai alat rontgen bagi perusahaan yang menerapkannya. Application document dan feedback report merupakan potret diri perusahaan, sehingga dapat diketahui dimana kelemahan dan kekurangannya.
11. Model MBCfPE menggunakan pendekatan yang terstruktur dan memiliki standard international.
Penerapan model MBCfPE di BNI ditujukan untuk hal-hal sebagai berikut :
1. Mencapai visi dan misi BNI. Untuk mencapai visi dan misi BNI, “menjadi bank kebanggaan nasional yang unggul dalam layanan dan kinerja”, dan “memaksimalkan kepentingan stakeholder value dengan menyediakan solusi keuangan yang fokus pada sektor korporasi, komersial dan konsumer” diperlukan strategi baru. Penerapan model MBCfPE diharapkan akan menjadi strategi yang tepat dalam mencapai visi dan misi tersebut.
2. Untuk mempercepat peningkatan kinerja unit/organisasi. Penerapan model MBCfPE di BNI dilakukan secara bertahap di beberapa unit organisasi di Kantor Besar. Dengan demikian akan diketahui kelemahan-kelemahan di masing-masing unit dan action plans/action steps untuk masing-masing unit. Perumusan dan pelaksanaan action plans/action steps untuk perbaikan OFIs di masing-masing unit tersebut akan mempercepat peningkatan kinerja masing-masing unit.
3. Menjadikan BNI sebagai perusahaan berkinerja unggul dan berkelas dunia. Model MBCfPE memberikan panduan bagaimana mengelola suatu perusahaan agar menjadi perusahaan yang berkinerja unggul bukan hanya untuk tingkat nasional tetapi juga untuk tingkat dunia.
4. Sebagai sarana pelaksanaan continues improvement. Penerapan model MBCfPE mengharuskan adanya tindak lanjut atas feedback report. Dalam feedback report disajikan adanya kelemahan-kelemahan (opportunities for improvement). Agar kinerja perusahaan dapat ditingkatkan maka perusahaan perlu melakukan perbaikan atas kelemahan-kelemahan yang ada tersebut. Perusahaan harus menyusun action plans dan action steps perbaikan opportunities for improvement. .
5. Memfasilitasi BNI dalam internalisasi budaya unggul. Roh dari model MBCfPE terletak pada pelaksanaan action plans/action steps untuk perbaikan OFIs. Jika hal ini dilaksanakan secara terus menerus, maka pelaksanaan perbaikan akan menjadi budaya di BNI.
6. Agar diperoleh informasi, knowledge dan experiences dari perusahaan lain yang berkelas dunia dan berkinerja unggul. Salah satu filosofi dalam model MBCfPE dan aktivitas diantara perusahaan yang telah menerapkan model MBCfPE adalah adanya sharing experiences and information. Dengan menerapkan model MBcfPE, BNI akan memperoleh manfaat berupa informasi, pengetahuan dan pengalaman dari perusahaan lain untuk diterapkan di BNI.
7. Mendorong pertumbuhan revenue dan profit secara berkelanjutan. Action plans/ action steps yang harus dilaksanakan dalam rangka perbaikan OFIs dikaitkan dengan pencapaian target unit. Dengan demikian penerapan MBCfPE akan mendorong pertumbuhan revenue dan profit secara berkelanjutan.
8. Mengarahkan sistem manajemen menjadi lebih efektif dan terintegrasi. Model MBCfPE memberikan panduan bagaimana mengelola perusahaan agar menjadi perusahaan yang berkinerja unggul. Melalui penerapan MBCfPE, seluruh aktivitas pengelolaan BNI diarahkan dan diintegrasikan pada satu tujuan yang sama.
9. Membantu dalam meningkatkan company value. Model MBCfPE meng-address pengelolaan perusahaan dikaitkan dengan kepentingan seluruh stakeholders. Model MBCfPE juga menghendaki pengelolaan perusahaan secara beretika, taat azas dan peraturan, dan perilaku manajemen yang dapat dijadikan contoh. Hal-hal tersebut pada akhirnya akan meningkatkan company value perusahaan.
Bagaimana MBCfPE diterapkan?
Proses atau siklus penerapan MBCfPE diawali dengan proses pembuatan dokumen aplikasi yang dilakukan oleh perusahaan yang bersangkutan (assessee). Berdasarkan dokumen aplikasi tersebut pihak assessor atau examiner (berjumlah 3 – 5 orang) melakukan proses assessment. Oleh pihak assessor hasil assessment dituangkan dalam feedback report yang berisi score, strengths, dan opportunities for improvement (OFIs). Berdasarkan feedback report tersebut, assessee merumuskan dan melaksanakan action plans/action steps untuk perbaikan OFIs. Proses atau siklus penerapan model MBCfPE berjalan selama 1 (satu) tahun, dan pada tahun berikutnya kembali pada proses pembuatan dokumen aplikasi.
Proses atau siklus penerapan konsep MBCfPE dapat digambarkan sebagai berikut :
Siklus 1 – Application Process
Application process merupakan proses penyusunan dokumen aplikasi (application document/application summary) yang dilakukan oleh pihak perusahaan yang bersangkutan (assessee). Dokumen aplikasi merupakan dokumen yang menggambarkan profil organisasi perusahaan (assessee) dan bagaimana pengelolaan perusahaan/unit organisasi dilakukan dilihat dari kriteria atau kategori MBCfPE. Dokumen aplikasi berisi tentang jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang terkait dengan hal-hal berikut :
1. Profil Organisasi :
1) Deskripsi organisasi – Apa karakteristik utama perusahaan, bagaimana lingkungan bisnis, dan bagaimana hubungan dengan pelanggan, pemasok, mitra kerja, dan pemangku kepentingan.?
2) Tantangan perusahaan – Apa yang menjadi tantangan utama perusahaan, jelaskan lingkungan kompetitif perusahaan, tantangan strategis dan system perbaikan kinerja perusahaan,
2. Kepemimpinan :
1) Kepemimpinan organisasi – Bagaimana para pemimpin senior memimpin perusahaan?
2) Tata kelola dan tanggung jawab sosial – Bagaimana para pemimpin senior mengelola dan memperhatikan tanggung jawab sosial?
3. Perencanaan Strategis :
1) Pengembangan strategi – Bagaimana para pemimpin senior membangun strategi?
2) Penerapan strategi – Bagaimana perusahaan menerapkan strategi?
4. Fokus pada pasar dan pelanggan :
1) Pengetahuan terhadap pelanggan dan pasar – Bagaimana perusahaan mengguna-kan informasi pelanggan dan pasar?
2) Kepuasan dan hubungan pelanggan – Bagaimana perusahaan membangun hubungan dan menumbuhkan kepuasan dan loyalitas pelanggan?
5. Pengukuran, analisis dan pelolaan pengetahuan :
1) Pengukuran, analisis dan pengkajian kinerja – Bagaimana perusahaan mengukur, menganalisa dan mengevaluasi kinerja organisasi?
2) Pengelolaan pengetahuan dan informasi – Bagaimana perusahaan mengelola pengetahuan dan informasi organisasi?
6. Fokus pada sumber daya manusia :
1) Sistem kerja – Bagaimana manajemen memampukan karyawan untuk menyelesaikan pekerjaan perusahaan?
2) Motivasi dan pembelajaran karyawan – Bagaimana manajemen berpartisipasi dalam memotivasi dan pembelajaran karyawan?
3) Kenyamanan dan kepuasan karyawan – Bagaimana manajemen berkontribusi untuk kenyamanan dan menumbuhkan kepuasan karyawan?
7. Pengelolaan proses :
1) Proses penciptaan nilai – Bagaimana perusahaan mengidentifikasi dan mengelola proses utama?
2) Proses pendukung dan perencanaan operasional – Bagaimana perusahaan mengidentifikasi proses pendukung dan mengaitkannya dan perencanaan operasional?
8. Hasil-hasil organisasi :
1) Hasil-hasil produk dan jasa – Bagaimana kinerja produk dan jasa perusahaan?
2) Hasil fokus pada pelanggan – Bagaimana kinerja dari fokus pada pelanggan?
3) Hasil keuangan dan pasar – Bagaimana kinerja keuangan dan pemasaran perusahaan?
4) Hasil sumber daya manusia – Bagaimana kinerja sumber daya manusia perusahaan?
5) Hasil keefektifan organisasi – Bagaimana efektifitas kinerja perusahaan?
6) Hasil kepemimpinan dan tanggung jawab sosial – Bagaimana hasil kepemimpinan dan tanggung jawab sosial perusahaan?
Siklus 2 – Assessment Process
Assessment process merupakan proses evaluasi atau eksaminasi yang dilakukan oleh assessor atau examiner. Proses eksaminasi dilakukan melalui tahapan sebagai berikut :
1. Review dokumen aplikasi oleh assessor dalam rangka mendapatkan pemahaman tentang perusahaan secara keseluruhan.
2. Pembuatan draft feedback report
a. Perumusan Key Business Factor (KBF), Kekuatan (Strengths) dan Opportunity for Improvement (OFIs)
b. Perumusan Site Visit Issues (SVI)
c. Perumusan draft skore MBCfPE
3. Melakukan site visit ke pihak assessee dalam rangka melakukan klarifikasi dan verifikasi hasil evaluasi/draft feedback report. Verifikasi dan klarifikasi dilakukan dengan wawancara dan diskusi antara Assessor dengan Assessee (manajemen dan pegawai).
4. Pihak assessor atau examiner yang berjumlah 3 – 5 orang mengadakan konsensus untuk perumusan feedback report dan skore akhir.
5. Pembuatan feedback report oleh assessor yang berisi :
a. Data examiners
b. Assessment scoring summary
c. Key themes
d. Key business factor, strengths, area for improvement untuk masing-masing kategori.
Siklus 3 – Improvement Process
Improvement process merupakan tahapan terpenting dalam penerapan MBCfPE. Atas feedback report yang diberikan oleh pihak assessor atau examiner, assessee harus melaksanakan tindak lanjut dengan tahapan sebagai berikut :
1. Memahami isi feedback report, khususnya opportunity for improvement (OFIs).
2. Menentukan prioritas OFIs yang akan dilakukan perbaikan. Penetapan prioritas dapat dilakukan berdasarkan dampak terhadap kinerja bisnis dan tingkat kemudahan untuk dilaksanakan (feasibility). Agar pelaksanaan action plans dan action steps tidak dirasakan sebagai pekerjaan tambahan, maka agar dipilih OFIs yang terkait dengan job description dan pekerjaan sehari-hari dari pihak yang melaksanakan action plans atau action steps tersebut.
3. Perumusan action plans dan action steps perbaikan OFIs. Dalam merumuskan action plans dan action steps untuk setiap OFIs agar dikaitkan dengan penyediaan system, approach, method-nya, deployment (penerapan), learning process (evaluation), dan integration dengan system perusahaan secara keseluruhan.
4. Pelaksanaan action plans dan action steps perbaikan OFIs. Agar pelaksanaan action plans dan action steps dapat berjalan sebagaimana yang diharapkan maka perlu ditunjuk person in charge (PIC) untuk masing-masing action plan dan target waktu penyelesaiannya Dalam tahapan ini, setiap action plan dan action step yang telah dilaksanakan perlu didokumentasikan sebagai alat monitor yang akan dilakukan oleh pimpinan senior.
5. Pemantauan dan evaluasi pelaksanaan action plans dan action steps perbaikan OFIs. Tahapan ini menjadi tugas dan tanggung jawab pemimpin senior untuk melaksanakannya. Tahapan ini perlu dilakukan dalam rangka mengetahui sejauh mana action plan dan action plan telah berjalan sebagaimana yang diharapkan, dan jika perlu dapat dilakukan revisi atau penyesuaian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar