TRANSLATOR

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
by : BTF

Sabtu, 31 Januari 2009

REFLEKS, BEKAL BAYI UNTUK BERTAHAN HIDUP

Ada refleks yang menetap sampai dewasa, ada juga yang harus menghilang. Indikasi perkembangan bayi juga bisa dilihat dari ada tidaknya refleks ini.


Mengapa si mungil yang baru kenal dunia langsung tahu cara mengisap puting ibunya? Itu karena setiap bayi sudah dibekali refleks. Ya, refleks adalah gerakan primitif yang tak terkontrol atau involuntary. Sebagian bahkan sudah muncul sejak dalam kandungan. Gerakan ini tak diajarkan, tapi ada dalam diri bayi secara biologis. Contohnya refleks rooting (memalingkan muka bila pipinya disentuh dan mulut akan langsung membuka) serta sucking (mengisap). Kedua refleks ini muncul hampir berbarengan.

Jika kita sentuh pipinya atau kita dekatkan sebuah objek ke arah mulutnya, maka secara refleks bayi akan menoleh sambil membuka mulutnya lalu melakukan gerakan mengisap. "Refleks inilah yang membantu bayi mendapatkan makanan," kata dr. Jonardi, Sp.A.

Di bulan-bulan pertama kehidupannya, manakala sistem saraf pusat dan otaknya belum berkembang optimal, bayi bertahan hidup dengan mengandalkan refleks. Rooting dan sucking sering disebut sebagai refleks pertahanan diri karena dengan kedua refleks inilah bayi memulai kegiatan pemenuhan kebutuhan makanan, yaitu dengan mengisap ASI. Kedua refleks ini akan menghilang ketika bayi berumur 3 sampai 4 bulan, yang selanjutnya digantikan dengan kepandaian mengisap ASI.

Jonardi yang adalah Kepala Unit Kesehatan Anak RSU Tangerang menekankan, fungsi refleks merupakan alat proteksi diri alamiah. Refleks juga dianggap sebagai gerakan motorik yang penting bagi bayi baru lahir. Melalui refleks ini, kelak si bayi akan mengembangkan kemampuan motoriknya agar dapat tumbuh dan berkembang dengan normal.

Ada banyak refleks pada bayi, tapi umumnya yang dikenal hanya 9 refleks (lihat boks "9 Refleks Bayi"). Ada pula refleks-refleks kecil seperti coughing atau batuk. Awalnya batuk tidak digolongkan sebagai refleks, tapi penelitian lebih lanjut membuktikan batuk termasuk refleks. Selain itu, ada refleks yawning, yakni refleks seperti menjerit kalau bayi merasa lapar, biasanya kemudian disertai tangisan.

INDIKATOR KELAINAN

Begitu pentingnya refleks-refleks ini sehingga dijadikan salah satu sarana mengindikasi ada-tidaknya kelainan dalam perkembangan bayi. "Bila refleks tak muncul, hal ini bisa dikarenakan perkembangan otak yang lambat atau ada kerusakan, semisal trauma di kepalanya ketika lahir. Bagaimanapun, refleks-refleks

berada dalam susunan saraf di otak. Kalau tidak punya refleks sama sekali, pasti si bayi akan meninggal begitu dia lahir. Refleks merupakan survival mechanism. Jadi, refleks itu selalu ada meskipun gradasinya mungkin kecil atau muncul kemudian setelah berkali-kali dirangsang," lanjut Jonardi.

Untuk mengenali refleks, seorang dokter anak yang ikut dalam tim persalinan akan melakukan uji stimulus terhadap refleks-refleks bayi baru lahir. "Umumnya, bayi yang normal dan sehat sekali dirangsang langsung menunjukkan respons pada tempat yang menjadi refleksnya."

Misalnya, begitu matanya disinari lampu, si bayi akan langsung menunjukkan refleks blinking. Bila tidak menunjukkan reaksi apa pun, biasanya dokter akan melihat urutan kejadian sejak kehamilan hingga persalinan ibu. Bila si bayi lahir prematur, dokter memberlakukan gradasi refleks karena umumnya respons bayi prematur terhadap rangsangan lemah.

Perangsangan untuk melihat refleks Moro dilakukan dokter dengan cara mengejutkan bayi, apakah itu menggunakan suara keras atau melepaskan kepala bayi secara tiba-tiba selama sesaat dalam posisi telentang. Respons yang ditunjukkan bayi adalah terkejut, lalu melengkungkan punggungnya, menjatuhkan kepala, menangkupkan kedua lengan dan kakinya ke tengah badan dan diikuti tangis yang keras. Dengan kata lain, gerakannya simetris.

Pada anak yang lahir sungsang atau ada bagian tubuhnya yang cedera (fraktur), refleks Moro adakalanya menghasilkan gerakan yang asimetris. Ini karena bagian yang terganggu (terkena fraktur) tidak ikut bergerak. "Kalau setelah dilakukan refleks Moro ada bagian tubuh yang tak bereaksi atau bergerak, dokter anak akan segera meneliti dan berkonsultasi pada ahli rehabilitasi medik atau ahli bedah ortopedi. Refleks yang asimeteris ini kan, sudah menggambarkan gangguan."

MENGHILANG ATAU TERKENDALI

Yang jelas, refleks-refleks ini nantinya ada yang hilang, ada pula yang berubah jadi lebih terkontrol. (Lihat boks "9 Refleks Bayi). Jika suatu refleks tidak hilang pada saatnya harus menghilang, berarti ada sesuatu yang salah. "Misalnya, pada usia empat bulan, tangan bayi masih menggenggam tanpa mau membuka, berarti ada kelainan. Untuk itu perlu diteliti lebih lanjut, apakah karena perkembangannya terlambat atau ada kerusakan otak," urai Jonardi.

Pendeknya, semua fenomena refleks yang muncul sejak hari kelahiran bayi harus dipantau terus perkembangannya. Termasuk refleks yang sifatnya menetap seperti blinking atau mengerjap bila mata terkena cahaya menyilaukan. Gerakan mata tak normal bisa menunjukkan adanya kelainan saraf di otak. "Gerakan blinking normalnya sampai usia 6 bulan memang belum stabil. Tapi kalau dalam satu waktu terjadi blinking berkali-kali misalnya, dan mata hanya melihat ke atas, kita bisa mencurigainya sebagai kejang, meskipun dia tidak sedang demam."

Pengetahuan mengenai aneka refleks bayi juga dapat menjadi patokan orang tua dalam mencermati perkembangan motorik dan sensorik si buah hati. Refleks mengindikasikan adanya perkembangan otak dan perkembangan

otak sangat erat kaitannya dengan kecerdasan si bayi kelak. Saran dokter, setidaknya sekali dalam sebulan, bayi rutin diperiksa. Tujuannya agar bila terjadi gangguan dalam proses tumbuh kembangnya, hal itu dapat diketahui sejak awal.

9 REFLEKS BAYI

1.Refleks : Blinking
Stimulasi :Kilatan cahaya atau hembusan udara
Respons : Bayi akan menutup kedua matanya
Pola Perkembangan :Menetap
Bila Tak Ada Respons, Menunjukkan :Kelainan pada saraf di otak

2.Refleks :Babinski
Stimulasi :Telapak kaki digoyang atau disentuh
Respons :Jari-jari kaki akan membuka
Pola Perkembangan :Menghilang di usia 1 sampai 2 tahun
Bila Tak Ada Respons, Menunjukkan :Kelainan pada saraf otak (bila menetap)

3.Refleks :Darwinian (Grasping)
Stimulasi :Telapak tangan disentuh
Respons :Jari-jari mengatup, membentuk genggaman
Pola Perkembangan :Melemah di usia 3 bulan, menghilang di usia
1 tahun
Bila Tak Ada Respons, Menunjukkan :Kelainan pada saraf otak atau bila menetap

4.Refleks :Moro
Stimulasi :Tiba-tiba dikejutkan oleh suara atau gerakan
Respons :Terkejut, lalu melengkungkan punggungnya,
menjatuhkan kepala, menangkupkan kedua
lengan dan kakinya ke tengah badan
Pola Perkembangan :Menghilang di usia 3 sampai 6 bulan
Bila Tak Ada Respons, Menunjukkan :Fraktur atau cedera pada bagian tubuh
tertentu

5.Refleks :Rooting
Stimulasi :Disentuh pipi atau ujung mulutnya
Respons :Mulut akan langsung membuka dan melakukan
gerakan seperti orang mengisap (mengenyot)
Pola Perkembangan :Menghilang di usia 3 sampai 4 bulan
Bila Tak Ada Respons, Menunjukkan :Bayi kurang bulan (prematur) atau
kemungkinan adanya kelainan sensorik

6.Refleks :Steping
Stimulasi :Bila tubuhnya diangkat dan diposisikan
berdiri di atas permukaan lantai
Respons :Kakinya akan menjejak-jejak seperti akan
berjalan
Pola Perkembangan :Menghilang di usia 3 sampai 4 bulan
Bila Tak Ada Respons, Menunjukkan :Kelainan pada motorik kasar

7.Refleks :Sucking
Stimulasi :Bila ada objek disentuhkan atau dimasukkan
ke mulut
Respons :Bayi langsung melakukan gerakan seperti
mengisap
Pola Perkembangan :Menghilang di usia 3 sampai 4 bulan
Bila Tak Ada Respons, Menunjukkan :Kelainan saluran pernapasan dan kelainan
pada mulut termasuk langit-langit mulut

8.Refleks :Swimming
Stimulasi :Ditelungkupkan di dalam air
Respons :Secara otomatis tubuhnya akan membuat
gerakan-gerakan seolah berenang
Pola Perkembangan :Menghilang di usai 6 sampai 7 bulan
Bila Tak Ada Respons, Menunjukkan :Bayi prematur atau gangguan motorik kasar

9.Refleks :Tonic neck
Stimulasi :Ditelentangkan
Respons :Memutar kepala bayi dalam posisi
ditelentangkan; akan tampak gerakan
berlawanan arah antara kepala dan tubuhnya.
Maksudnya, bila kepala menengok ke arah
kanan, maka bagian tubuhnya seperti
bergerak ke arah sebaliknya dengan kedua
tangan biasanya menggenggam. Posisinya akan
tampak seperti pemain anggar (the fencer
pose).
Pola Perkembangan :

Tidak ada komentar: