TRANSLATOR

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
by : BTF

Minggu, 25 Januari 2009

Keseimbangan Wanita Hamil

Mengapa wanita hamil tidak kehilangan keseimbangan kendati mereka mengalami penambahan bobot pada bagian depan? Para ilmuwan menjelaskan, wanita hamil mengalami proses evolusi pada punggung bagian bawah dan persendian pinggang sehingga bisa menyesuaikan pusat gravitasi. Evolusi tersebut tidak terjadi pada pria. Para ilmuwan meyakini, proses evolusi punggung dan persendian pinggang wanita sudah bermula pada awal kemunculan manusia yang berjalan tegak.
Simpanse dan kera tidak mengalami evolusi tersebut karena spesies-spesies tersebut tidak berjalan dengan dua kaki. "Kita harus bersyukur perubahan desain ini terjadi. Ketika mengandung, seorang wanita mengalami penambahan bobot signifikan pada bagian depan. Penambahan bobot ini tentu membuat wanita hamil merasa tidak nyaman. Namun, ketidaknyamanan tentu semakin menyakitkan apabila perubahan desain tidak terjadi," tutur profesor antropologi University of Texas Liza Shapiro, ketua tim peneliti. Shapiro adalah seorang ibu yang pernah mengalami kehamilan.

Karena itu, Shapiro memahami betul derita yang dirasakan wanita hamil. Shapiro mengungkapkan,wanita hamil kerap mengalami sakit pada bagian punggung karena mereka harus berdiri menyangga bobot berlebihan pada bagian depan. Rekan Shapiro, ahli antropologi Harvard University Katherine Whitcome, menemukan dua perbedaan fisik pada punggung pria dan wanita. Sebelumnya, perbedaan itu sama sekali tidak diperhatikan. Pertama, wanita memiliki sebuah tulang belakang bawah yang berbentuk lebih mirip segitiga. Pada pria, tulang tersebut berbentuk lebih kotak.

Kedua, wanita memiliki persendian pinggang yang berukuran 14 persen lebih besar daripada pria. "Wanita mengalami evolusi mengesankan. Berkat evolusi tersebut, wanita mampu menyesuaikan pusat gravitasi ketika mengandung. Ini merupakan evolusi indah yang bermanfaat sangat besar bagi wanita," tutur Whitcome. Whitcome tidak hanya mempelajari struktur tulang manusia modern, tapi juga fosil manusia purba bernama australopithecine (yang hidup pada dua juta tahun silam) dan simpanse.

Whitcome mengamati, perubahan desain wanita sudah terjadi sejak spesies australopithecine generasi awal muncul. Perubahan tersebut tidak terjadi pada simpanse. Shapiro menambahkan, ketika seorang wanita mengandung, tubuh wanita mulai condong ke belakang. Proses tersebut bermula ketika kandungan mencapai massa separuh dari total. Tanpa perubahan desain yang terjadi dalam proses evolusi, wanita harus menarik otot punggung untuk mengimbangi bobot pada bagian depan.

"Semakin keras otot ditarik, kita tentu merasa semakin tidak nyaman dan tulang belakang bisa rusak karena bergeser dan tumpang tindih. Berkat perubahan desain, wanita hamil tidak perlu menarik otot punggung dan tulang belakang tetap aman," papar Shapiro. Dalam penilaian Shapiro, tulang belakang wanita mampu menjadi poros lebih sempurna ketika wanita hamil memutar tubuh bagian atas yang mengalami penambahan bobot. Risiko kerusakan tulang belakang justru mengintai pria yang berperut buncit karena struktur tulang pria tidak dirancang untung menanggung penambahan bobot pada bagian depan.

"Pria berperut buncit terancam risiko lebih besar kerusakan tulang belakang karena pria tidak mengalami adaptasi struktur tulang. Untuk mengimbangi bobot pada bagian depan, pria berperut buncit harus menarik otot punggung. Karena itu, pria berperut buncit kerap mengeluhkan rasa sakit pada punggung," jelas Shapiro.

Diterbitkan dalam jurnal ilmiah Nature, penelitian Shapiro dan Whitcome melibatkan 19 relawan wanita hamil. Semasa hamil, para relawan selalu dipantau dengan kamera digital dan alat analisis gerakan untuk memetakan perubahan-perubahan postur dan gerakan.

Tidak ada komentar: